hakikat mahasiswa: demonstrasi

Mahasiswa adalah kelompok intelektual yang seharusnya bekerja dengan kepala, logika, dan retorika, bukan dengan fisik yang selama ini sering kali dipraktikkan aparat keamanan. Mahasiswa bukanlah komunal robotik yang bekerja atas dasar perintah tanpa mempertimbangkan etika dan nalarnya. Mahasiswa adalah komunal intelektual organik yang bergerak dan bekerja atas dasar pertimbangan intelektual yang kita miliki. Dalam bertindak, kita harus mempertimbangkan keefektifan dan etika, bukan semata-mata bertindak atas dasar emosional semata. Sebagai agent of change, yang menggelitik pemikiran kita adalah perubahan apa yang akan kita lakukan, bagaimana caranya, dengan siapa, dimana dan kapan perubahan itu akan dilakukan dan sampai kapan limitnya…Kampus ibarat medan perang kecil bagi manusia yang dikatakan sebagai maha-siswa (sungguh istilah ini sepertinya harus diganti, what’s the meaning of maha???). Perang pemikiran sampai perang fisik. Sejarah telah mencatat, gerakan mahasiswa dimulai tahun 1908. Sepak terjang mahasiswa telah terbukti mampu menggoyahkan kelompok yang secara arogan membuat kebijakan-kebijakan elit. Dan mungkin orang Indonesia harus berterima kasih kepada penjajah Inggris karena telah membuat politik etis bagi Indonesia sehingga kultur intelektual (jika memang demo bisa dikatakan sebagai budaya intelektual-disamping budaya intelektual yang lain) bisa dinikmati dan dirasai oleh orang Indonesia sampai satu abad sekarang, 2008. Jalanan telah menjadi lahan garap mahasiswa, baik dengan massa ribuan hingga segelintiran. dari yang isu internasional sampai isu gurem, isu primordialisme angkatan, jurusan de el el. Dan sekarang sepertinya gerakan mahasiswa menjadi hablur dengan anarkisme mahasiswa (walaupun initidak bisa digeneralisasi) Lalu apa makna demonstrasi itu sendiri?? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia tulisan W.J.S. Poerwadarminta, demonstrasi diartikan sebagai tindakan bersama berupa perarakan dsb untuk menyatakan protes, perasaan tidak setuju, dsb. Sedangkan aksi diartikan sebagai gerakan (lihat detil: http://kmipb.org/home/index.php?option=com_content&task=view&id=84&Itemid=2). Apapun itu bagi mahasiswa gerakan ekstraparlementer memang harus kreatif, menjawab permasalahan, berwawasan kekinian dan futuristik, tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Demontrasi, saat ini memang telah dilindungi oleh UU, bahkan masyarakat internasionalpun telah mengakui kebebasan ini, akan tetapi apa yang terjadi pada demonstrasi ala mahasiswa Indonesia saat ini?? Tahun 2007, sejarah telah mencatat puluhan demonstrasi anarkis yang berakhir kerugian material. Secara jumlah, kasus demonstrasi yang berakhir anarkis-bentrok dengan polisi paling banyak terjadi di daerah makasar. Memang, keanarkisan sebuah demostrasi tidak boleh dilihat dari satu pihak, yait mahasiswa saja. Perlu juga diliat, elemen dalam demostrasi itu sendiri, seperti polisi/aparat keamanan, wakil rakyat, dan aspek regulasi. Indonesia belum mampu mengakomodir itu semua. polisi masih saja emosional dan serabutan saat menangani demonstrasi mahasiswa. wakil rakyat yang katanya mewakili aspirasi masyarakat juga masih banyak yang “tidur”, eksekutif sebagai regulator masih payah juga. hal ini diperparah dengan mahasiswa yang masih belum cerdas dalam berdemonstrasi……. bersambung……

About these ads



    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: